Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi anak-anak dan memberikan alternatif terapi yang nyaman dan aman, Tim PKM Hibah Kemendikbud - Ristek DRTPM Tahun 2024 (Universitas Kristen Indonesia Maluku) bekerjasama dengan mitra Puskesmas Waihoka di Ambon dalam menyelenggarakan sosialisasi mengenai “Healing Touch” sebagai terapi non-farmakologis untuk mengatasi nyeri pasca-imunisasi pada anak. Acara ini dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu sosialisasi [tanggal 30 Oktober 2024] dan pelatihan [tanggal 27 Desember 2024] di Gedung Lakpona Amarere, dihadiri oleh Kepala Puskesmas [Ketua Mitra], petugas kesehatan, tenaga medis, perwakilan kader Kesehatan dan perwakilan orang tua.
Tahap 1: Sosialisasi
Sambutan dari Kepala Puskesmas Waihoka, Ibu Meylian Vony Boreel, S.Kp., G.
Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Waihoka, Ibu Meylian Vony Boreel, S.Kp., G., menekankan bahwa kegiatan ini adalah bagian penting dari komitmen Puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan holistik. Beliau menjelaskan bahwa melalui kerja keras Tim PkM yang diketuai oleh Ns. Vernando Yanry Lameky, S.kep.,M.Kep terkait program yang didanai, beliau mengatakan bahwa imunisasi adalah prosedur penting dalam menjaga kesehatan anak-anak dari berbagai penyakit, tetapi tidak jarang menimbulkan ketidaknyamanan atau nyeri pada anak-anak setelah proses imunisasi. Terapi “Healing Touch” hadir sebagai alternatif non-farmakologis yang bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri secara aman dan lembut.
“Kami berkomitmen untuk tidak hanya mendapat inovasi dari Tim tetapi akan memberikan bahkan implementasikan melalaui layanan medis yang berfokus pada penyembuhan fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan emosional dan psikologis anak. “Healing Touch” adalah metode terapi yang menggunakan sentuhan lembut untuk menenangkan anak dan membantu mengurangi rasa nyeri pasca-imunisasi. Ini adalah langkah kecil namun berarti yang dapat memberikan dampak positif bagi anak-anak dan orang tua,” ujar Ibu Boreel dalam sambutannya.
Sambutan dari Ketua Tim PkM Ns. Vernando Yanry Lameky, S.Kep., M.Kep
Ns. Vernando Yanry Lameky, S.Kep., M.Kep dalam sambutannya, Total biaya yang didapat oleh Kemendikbud Ristek – DRTPM Tahun 2024 adalah Rp. 35.624.000 sehingga Mitra sebagai penerima manfaat akan mendapat 50% (dalam bentuk asset atau sekitar Rp. Rp17.812.000). Lameky mengatakan bahwa “Healing Touch” adalah bentuk terapi energi yang menggunakan sentuhan lembut untuk menstimulasi sistem tubuh dan mengurangi ketidaknyamanan. Pendekatan ini bukan hanya untuk meredakan nyeri, tetapi juga untuk membantu pasien mencapai keseimbangan energi dalam tubuh yang berdampak pada perasaan nyaman dan relaksasi. Terapi ini dilakukan dengan lembut pada anak-anak, yang bertujuan untuk menenangkan mereka dan menurunkan intensitas nyeri setelah imunisasi.
Presentasi oleh Narasumber 1, Isak Roberth Akollo, M.Sc
Dalam penjelasannya, Isak Roberth Akollo, M.Sc, menegaskan bahwa pendekatan non-farmakologis seperti “Healing Touch” memiliki manfaat khusus karena tidak menggunakan obat-obatan, sehingga menghindari efek samping atau reaksi yang mungkin ditimbulkan oleh pengobatan farmakologis. Selain itu, sentuhan lembut dari tenaga medis dapat memberikan rasa aman dan nyaman, mengurangi ketegangan, serta membantu anak-anak pulih dengan cepat dari ketidaknyamanan pasca-imunisasi.
Presentasi oleh Narasumber 2, Ns. Vernando Yanry Lameky, S.Kep., M.Kep
Lameky Kembali memberikan materi dengan memperkenalkan metode “Healing Touch” secara mendalam kepada para peserta, termasuk manfaatnya bagi anak-anak pasca-imunisasi. Ia menjelaskan bahwa “Healing Touch” bukan hanya sekadar sentuhan biasa tetapi melibatkan teknik tertentu yang dapat merangsang sistem saraf dan membantu tubuh mengatasi rasa sakit dengan alami.
“Pada prinsipnya, “Healing Touch” berfokus pada penyelarasan energi tubuh, yang diyakini dapat membantu anak-anak merasa lebih nyaman. Prosesnya melibatkan sentuhan ringan di titik-titik tertentu untuk merangsang respons tubuh terhadap nyeri dan ketidaknyamanan. Teknik ini sederhana tetapi berdampak besar bagi anak-anak, terutama yang mengalami kecemasan atau ketakutan pasca-imunisasi,” jelas Lameky dalam presentasinya.
Ia juga memandu peserta tentang teknik-teknik dasar dalam “Healing Touch” yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah. Beberapa teknik tersebut meliputi sentuhan lembut pada bagian punggung, bahu, dan area tubuh lainnya yang membantu anak merasa lebih rileks dan nyaman. Menurut Lameky, peran orang tua sangat penting dalam menerapkan teknik ini di rumah untuk membantu anak-anak melewati fase pemulihan dengan lebih tenang.
Tahap 1: Pelatihan
Sambutan dari Kepala Puskesmas Waihoka, Ibu Meylian Vony Boreel, S.Kp., G.
Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Waihoka, Ibu Meylian Vony Boreel, S.Kp., G., menekankan bahwa kegiatan ini adalah tahap 2 yaitu pelatihan ini sangat penting, karena sebelumnya telah mendapat pengetahuan dan kini saatnya peserta akan mendapat pengalaman langsung atau dilatih. Sehingga besar harapannya para kader kesehatan atau orang tua yang mengikuti langsung diterapkan di posyandu masing-masing. Ia berjanji akan monev peserta jika program ini telah selesai dan Bersama-sama akan kolaborasi terhadap masalah yang didaptkan. Setelah itu dilanjutkan dengan berita acara serah terima asset dari Ketua Tim kepada Ketua Mitra sebagai penerima manfaat akan mendapat 50% (dalam bentuk asset atau sekitar Rp. Rp17.812.000).
Presentasi oleh Narasumber 1, Joanna C. Patty, S.T., M.Kom
Joanna C. Patty, S.T., M.Kom dalam paparannya menekankan bahwa aplikasi “Healing Touch” ini telah dilakukan dengan baik karena telh dilengkapi panduan teknik terapi, materi edukasi, form konsultasi, jadwal pengingat dan jadwal program. Setelah selesai dilanjutkan dengan demostrasi aplikasi bersama peserta.
Pelatihan oleh Tenaga Ahli, Ns. Alisye Siahaya, S.Kep., M.Kep
Ns. Alisye Siahaya, S.Kep., M.Kep, dalam pelatihannya menekankan pentingnya berpikir positif serta melaksanakan terapi “Healing Touch” dengan lembut dan penuh kasih sayang, terutama saat diterapkan pada anak. Beliau menjelaskan bahwa terapi ini memiliki beberapa keuntungan utama, seperti aman dan tanpa efek samping karena tidak melibatkan penggunaan obat-obatan, meningkatkan ikatan emosional antara anak dan orang tua melalui sentuhan lembut, serta mudah dipelajari oleh siapa saja setelah menjalani pelatihan singkat. Setelah penyampaian materi, pelatihan dilanjutkan dengan demonstrasi “Healing Touch” bersama peserta untuk memberikan pemahaman praktik secara langsung.
Anggota Tim Sosialisasi
Dalam tim sosialisasi ini, Ns. Vernando Yanry Lameky, S.kep.,M.Kep didampingi oleh anggota lain yang berperan penting dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, yaitu Isak Roberth Akollo, M.Sc., seorang pakar di bidang kesehatan masyarakat dan virus yang memiliki pengalaman luas dalam pengelolaan nyeri non-farmakologis.
Selain itu, kehadiran Joanna Cristy Patty, M.Kom serta dua mahasiswa kesehatan, Bredlcy Fransiscus Tuhuleruw dan Boy Tomasila, turut terlibat dalam kegiatan ini. Kehadiran para mahasiswa ini bukan hanya sebagai pendukung kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat sebagai calon tenaga dibidang yang menggabungkan teknologi informasi dan ilmu komputer dengan praktik Kesehatan yang akan melayani masyarakat ke depannya.
Tanggapan dan Pertanyaan dari Peserta
Para peserta sangat antusias mengikuti sesi tanya jawab yang disediakan setelah sosialisasi dan pelatihan. Beberapa peserta, terutama orang tua, merasa terbantu dengan adanya alternatif terapi yang dapat membantu anak-anak mereka pasca-imunisasi tanpa harus menggunakan obat penghilang nyeri. Salah satu peserta, seorang ibu bernama Ibu Wakim, menyampaikan apresiasinya terhadap metode ini, karena menurutnya, anak-anak kerap kali mengalami rasa tidak nyaman dan kecemasan setelah imunisasi.
“Biasanya anak-anak saya rewel dan sulit ditenangkan setelah imunisasi. Kalau ada terapi seperti ini, saya rasa bisa membantu anak-anak jadi lebih nyaman tanpa harus terlalu banyak minum obat,” ujarnya. Beberapa peserta lain juga menyampaikan pertanyaan mengenai penerapan Healing Touch pada anak dengan kondisi kesehatan khusus atau yang memiliki sensitivitas terhadap sentuhan.
Menanggapi hal ini, Lameky menjelaskan bahwa metode Healing Touch bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak. Bahkan, teknik ini dapat dimodifikasi untuk anak-anak yang lebih sensitif atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam hal ini, konsultasi dengan tenaga medis tetap dianjurkan agar metode yang diterapkan sesuai dan aman. Lameky menjelaskan bahwa nantinya ada kegiatan pelatihan (serah terima aplikasi healing touch) serta aka nada demostrasi Teknik oleh tenaga pembantu yang memiliki keahlian khusus.
Harapan dan Langkah Lanjut
Melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini, pihak Mitra [Puskesmas Waihoka] berharap bahwa metode ini dapat diterapkan lebih luas di kalangan masyarakat sebagai pilihan alternatif untuk mengatasi nyeri pasca-imunisasi. Selain itu, dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pendekatan non-farmakologis dalam penanganan nyeri pada anak-anak.
“Kami berharap Healing Touch bisa menjadi salah satu terapi alternatif yang lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya bagi orang tua yang memiliki anak kecil. Dengan metode ini, kita bisa membantu anak-anak merasakan kenyamanan dan mengurangi kecemasan mereka tanpa harus menggunakan obat-obatan berlebihan,” tutup Boreel.
Acara sosialisasi Healing Touch di Puskesmas Waihoka ini berakhir dengan baik dan disambut antusias oleh para peserta. Tim sosialisasi berencana untuk melakukan pelatihan lebih lanjut di masa mendatang, serta menyebarkan informasi tentang metode ini ke puskesmas-puskesmas lain di Ambon agar lebih banyak anak dapat merasakan manfaatnya.
No comments:
Post a Comment